Rabu, 31 Desember 2008

PENGINDRAAN JAUH


PENGINDERAAN JAUH

Penginderaan Jauh (Remote Sensing)

Berdasarkan hasil penelitian para ahli penginderaan jauh selama ini serta adanya kebutuhan

bagi pembangunan nasional, maka pemerintah telah memutuskan untuk membangun suatu

sistem Stasiun Bumi Satelit Penginderaan Jauh yang pelaksanaannya dipercayakan kepada

LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Sistem yang dibangun

disesuaikan dengan perkembangan saat ini, yaitu dapat menerima dan mengolah data dari

berbagai satelit yang diorbitkan dari bumi.

Melalui pendidikan yang modern, para ahli diharapkan mampu mengolah

(menginterpretasi, mengoreksi, dan menyajikan) data dari satelit agar dapat digunakan

untuk membantu pembangunan.

Beberapa satelit yang diluncurkan dari bumi oleh beberapa negara maju antara lain:

1. LANDSAT milik Amerika Serikat

2. SPOT milik Perancis

3. ERSI (Earth Resources Satellite) milik Badan Antariksa Eropa (ESA).

Banyak kegunaan hasil pemotretan bumi dari satelit merupakan perkembangan dari

pengukuran permukaan bumi dengan alat ukur tanah yang dikembangkan dengan foto

udara dan kemudian dengan satelit.

PENGERTIAN PENGINDERAAN JAUH

Berikut adalah pengertian Pengindraan jauh menurut beberapa ahli

· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu penggunaan sensor radiasi elektromagnetik

untuk merekam gambar lingkungan bumi yang dapat diinterpretasikan sehingga

menghasilkan informasi yang berguna (Curran, 1985).

· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu suatu pengukuran atau perolehan data pada

objek di permukaan bumi dari satelit atau instrumen lain di atas jauh dari objek yang

diindera (Colwell, 1984). Foto udara, citra satelit, dan citra radar adalah beberapa

bentuk penginderaan jauh.

· Penginderaan jauh (remote sensing), yaitu ilmu untuk mendapatkan informasi

mengenai permukaan bumi seperti lahan dan air dari citra yang diperoleh dari jarak

jauh (Campbell, 1987). Hal ini biasanya berhubungan dengan pengukuran pantulan

atau pancaran gelombang elektromagnetik dari suatu objek.

HASIL TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH

DATA

1. Data penginderaan jauh dapat berupa data digital atau data numerik untuk

dianalisis dengan menggunakan komputer

2. Selain itu, dapat berupa data visual yang pada umumnya dianalisis secara manual.

3. Data visual dibedakan lagi menjadi data citra dan noncitra.

4. Data citra merupakan gambaran planimetrik. Data noncitra ialah grafik yang

mencerminkan beda suku yang direkam di sepanjang daerah penginderaan

5. Di dalam penginderaan jauh yang tidak menggunakan tenaga elektromagnetik,

contoh data noncitra antara lain berupa grafik yang menggambarkan gravitasi

ataupun daya magnetik di sepanjang daerah penginderaan. Jadi, jelaslah bahwa

citra dapat dibedakan menjadi citra foto (photographic image) atau foto udara dan

citra nonfoto (nonphotographic image).

PENGERTIAN CITRA MENURUT BEBERAPA AHLI

· Citra merupakan gambaran yang terekam oleh kamera atau sensor lainnya

(Hornby).

· Citra adalah gambaran objek yang dibuahkan oleh pantulan atau pembiasan sinar

yang difokuskan dari sebuah lensa atau cermin (Simonett, 1983).

JENIS-JENIS CITRA

· Citra foto

Citra foto adalah gambaran yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera.

Citra foto dapat dibedakan berdasarkan atas spektrum elektromagnetik, sumber

sensor, dan sistem wahana yang digunakan.

Berdasarkan sistem wahana yang digunakan

a. Foto udara adalah foto yang dibuat dari pesawat udara atau balon.

b. Foto satelit atau foto orbital adalah foto yang dibuat dari satelit.

· Citra Non Foto

Citra nonfoto adalah gambaran yang dihasilkan dengan menggunakan sensor bukan

kamera.

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH

BIDANG KEHUTANAN

Bidang kehutanan berkenaan dengan pengelolaan hutan untuk kayu termasuk perencanaan

pengambilan hasil kayu, pemantauan penebangan dan penghutanan kembali, pengelolaan

dan pencacahan margasatwa, inventarisasi dan pemantauan sumber daya hutan, rekreasi,

dan pengawasan kebakaran. Kondisi fisik hutan sangat rentan terhadap bahaya kebakaran

maka penggunaan citra inframerah akan sangat membantu dalam penyediaan data dan

informasi dalam rangka monitoring perubahan temperatur secara kontinu dengan aspek

geografis yang cukup memadai sehingga implementasi di lapangan dapat dilakukan dengan

sangat mudah dan cepat.

BIDANG PENGGUNAAN LAHAN

Inventarisasi penggunaan lahan penting dilakukan untuk mengetahui apakah pemetaan

lahan yang dilakukan oleh aktivitas manusia sesuai dengan potensi ataupun daya

dukungnya. Penggunaan lahan yang sesuai memperoleh hasil yang baik, tetapi lambat laun

hasil yang diperoleh akan menurun sejalan dengan menurunnya potensi dan daya dukung

lahan tersebut. Integrasi teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu bentuk yang

potensial dalam penyusunan arahan fungsi penggunaan lahan. Dasar penggunaan lahan

dapat dikembangkan untuk berbagai kepentingan penelitian, perencanaan, dan

pengembangan wilayah. Contohnya penggunaan lahan untuk usaha pertanian atau budidaya

permukiman.

BIDANG PEMBUATAN PETA

Peta citra merupakan citra yang telah bereferensi geografis sehingga dapat dianggap

sebagai peta. Informasi spasial yang disajikan dalam peta citra merupakan data raster yang

bersumber dari hasil perekaman citra satelit sumber alam secara kontinu. Peta citra

memberikan semua informasi yang terekam pada bumi tanpa adanya generalisasi.

Peranan peta citra (space map) dimasa mendatang akan menjadi penting sebagai upaya

untuk mempercepat ketersediaan dan penentuan kebutuhan peta dasar yang memang belum

dapat meliput seluruh wilayah nasional pada skala global dengan informasi terbaru (up to

date). Peta citra mempunyai keunggulan informasi terhadap peta biasa. Hal ini disebabkan

karena citra merupakan gambaran nyata di permukaan bumi, sedangkan peta biasa dibuat

berdasarkan generalisasi dan seleksi bentang alam ataupun buatan manusia. Contohnya

peta dasar dan peta tanah.

BIDANG METEOROLOGI (METEOSAT, TIROS, DAN NOAA)

Manfaat penginderaan jauh di bidang meteorologi adalah sebagai berikut.

a. Mengamati iklim suatu daerah melalui pengamatan tingkat perawanan dan

kandungan air dalam udara.

b. Membantu analisis cuaca dan peramalan/prediksi dengan cara menentukan

daerah tekanan tinggi dan tekanan rendah serta daerah hujan badai dan siklon.

c. Mengamati sistem/pola angin permukaan.

d. Melakukan pemodelan meteorologi dan set data klimatologi.

BIDANG OSEANOGRAFI (SEASAT)

Manfaat penginderaan jauh di bidang oseanografi (kelautan) adalah sebagai berikut.

a. Mengamati sifat fisis laut, seperti suhu permukaan, arus permukaan, dan

salinitas sinar tampak (0-200 m).

b. Mengamati pasang surut dan gelombang laut (tinggi, arah, dan frekwensi).

c. Mencari lokasi upwelling, singking dan distribusi suhu permukaan.

d. Melakukan studi perubahan pantai, erosi, dan sedimentasi (LANDSAT dan

SPOT).

BIDANG HIDROLOGI (LANDSAT/ERS, SPOT)

Manfaat penginderaan jauh di bidang hidrologi adalah sebagai berikut.

a. Pemantauan daerah aliran sungai dan konservasi sungai.

b. Pemetaan sungai dan studi sedimentasi sungai.

c. Pemantauan luas daerah intensitas banjir.

BIDANG GEOFISIKA BUMI PADAT, GEOLOGI, GEODESI, DAN

LINGKUNGAN (LANDSAT, GEOSAT)

Manfaat penginderaan jauh di bidang geofisika, geologi, dan geodesi adalah sebagai

berikut.

a. Melakukan pemetaan permukaan, di samping pemotretan dengan pesawat

terbang dan menggunakan aplikasi GIS.

b. Menentukan struktur geologi dan macam batuan.

c. Melakukan pemantauan daerah bencana (kebakaran), pemantauan aktivitas

gunung berapi, dan pemantauan persebaran debu vulkanik.

d. Melakukan pemantauan distribusi sumber daya alam, seperti hutan (lokasi,

macam, kepadatan, dan perusakan), bahan tambang (uranium, emas, minyak

bumi, dan batu bara).

e. Melakukan pemantauan pencemaran laut dan lapisan minyak di laut.

f. Melakukan pemantauan pencemaran udara dan pencemaran laut. (Dra. Sri

Hartati Soenarmo MSP, 1993)

IDENTIFIKASI BENTANG ALAM & BENTANG BUDAYA DARI

CITRA PENGINDERAAN JAUH

Interpretasi citra adalah tindakan mengkaji foto dan atau citra dengan maksud untuk

mengenali objek dan geja la serta menilai arti pentingnya objek dan gejala tersebut, (Estes,

1975 dan Sutarto, 1979).

Selain hal tersebut di atas, suatu foto udara secara sistematik biasanya melibatkan

pertimbangan karakteristik dasar citra foto.

Tujuh karakteristik yang digunakan oleh penafsir foto secara manual atau visual adalah

sebagai berikut.

a. Bentuk ialah konfigurasi atau kerangka suatu objek yang langsung menumbuhkan

kesan bentuk objek yang diidentifikasi sesuai dengan kenampakan pada foto udara.

Contohnya gedung sekolah berbentuk empat persegi panjang, huruf L, huruf I, atau

huruf U.

b. Ukuran ialah keluasan atau volum suatu objek yang berkaitan erat dengan skala foto

sehingga besar kecilnya ukuran atau sempit luasnya ukuran sangat relatif.

Contohnya ukuran rumah pada umumnya lebih kecil bila dibandingkan dengan

ukuran kantor atau industri.

c. Pola ialah hubungan susunan spasial suatu objek. Contohnya pola aliran sungai

dendritik.

d. Bayangan sangat penting bagi penafsir foto karena mendukung penalaran bentuk

objek yang diidentifikasi. Contohnya cerobong asap, menara, tangki minyak dan

lereng terjal.

e. Rona atau gradasi atau tingkat kecerahan/kegelapan objek pada foto udara hitam

putih menunjukkan gradasi dari terang, terang kelabu, kelabu gelap hingga gelap

atau hitam. Contohnya pantulan objek, misalnya air tampak gelap dan batuan kapur

tampak cerah.

f. Tekstur atau frekuensi perubahan rona pada citra fotografi dihasilkan oleh

kumpulan unit kenampakan atau merupakan gabungan dari bentuk, ukuran, pola,

bayangan, dan rona. Contohnya pantulan objek, misalnya air tampak gelap dan

batuan kapur tampak cerah.

g. Situs ialah suatu posisi atau lokasi suatu objek terhadap objek lainnya. Hal ini

memberi kesan adanya hubungan yangsangat membantu penafsir foto dalam

mengenali dan meyakini hasil interpre tasi atau penafsiran suatu objek. Contohnya

situs kebun kopi terletak di tanah miring karena tanaman kopi menghendaki adanya

pengaturan air yang baik.

Beberapa Bentang Alam Hasil Penginderaan Jauh

A. Sungai

1. Pada foto udara hitam putih, warna permukaan air seragam. Air yang jernih

berwarna gelap dan air yang keruh berwarna merah. Pada foto udara infra

merah, warna pancaran terlihat gelap.

2. Arah sungai dikenal dengan :

a. Lebar sungai, yaitu makin lebar ke arah muara

b. Tempat-tempat pertemuan yang umumnya menyusut, lancip ke arah aliran

sungai.

c. Perpindahan meander, di samping perpindahan ke bawah aliran sungai.

d. Beda tinggi, yaitu makin rendah ke muara

e. Bentuk gosong sungai (river bar) yang runcing dan melebar ke arah aliran.

B. Dataran Banjir

1. Permukaan rata dan letaknya lebih rendah dari sekitarnya. Kalau terjadi

ketiraratan biasanya disebabkan oleh adanya danau tapak kudam point bar,

bekas saluran, dan sebagainya.

2. tampak sungainya, meskipun kadang-kadang jauh (bagian terlebar dari

dataran banjir di sungai Missisippi mencapai 125 mil dari sungainya.

3. Rona seragam atau tidak seragam

4. Pada umumnya digunakan untuk tanaman pertanian.

C. Hutan Bakau

1. Tidak memiliki rona yang hitam karena daya pantul sangat rendah

2. Tinggi pohon seragam, yakni antara 7 - 13 meter

3. Tumbuh pada pantai yang becek atau tepi sungai hingga batas air payau.

D. Hutan Rawa

1. memiliki tinggi pohon yang berbeda-beda hingga 50 meter sehingga rona

dan teksturnya tidak seragam.

2. Ke arah laut dibatasi oleh hutan bakau dan ke arah pedalaman dibatasi

oleh hutan rimba.

3. Tampak air atau perairan di dekatnya.

KEUNTUNGAN PENGGUNAAN PENGINDERAAN JAUH

Baik diukur dari jumlah bidang penggunaan maupun frekuensinya, penggunaan

penginderaan jauh pada saat ini meningkat dengan pesat. Hal ini disebabkan oleh factorfaktor

dibawah ini :.

a. Citra menggambarkan objek, daerah, dan gejala di permukaan bumi dengan

wujud dan letak objek yang mirip dengan wujud dan letaknya di permukaan

bumi, relatif lengkap, meliput daerah yang luas, dan bersifat permanen. Wujud

dan letak objek yang tergambar pada citra mirip dengan wujud dan letaknya di

permukaan bumi.

Citra merupakan alat dan sumber pembuatan peta, baik dari segi sumber data

maupun sebagai kerangka letak. Kalau peta merupakan model analog,

citra terutama foto udara merupakan modal ikonik karena wujud gambarnya

mirip wujud objek sebenarnya.

Citra merupakan sumber data multimatik karena citra dapat digunakan untuk

pelbagai bidang, seperti geografi, geologi, hidrologi, dan kehutanan.

Penggunaan citra dapat menggambarkan daerah yang luas.

Bagi foto udara berskala 1 : 50.000 dan berukuran standar 23 x 23 cm, tipe foto

dapat meliput daerah seluas 132 km2. Satu lembar foto udara berskala 1 :

100.000 meliput daerah seluas 529 km2. Citra satelit LANDSAT IV yang dibuat

pada ketinggian 700 km dapat meliput daerah seluas 34.000 km2.

Di samping citra, hanya peta yang mampu menyajikan gambaran sinoptik

walaupun berupa simbol.

b. Dari jenis citra tertentu dapat ditimbulkan gambar tiga dimensi apabila

pengamatannya dilakukan dengan alat steroskop.

Gambar tersebut menguntungkan karena:

· Menyajikan model medan yang jelas.

· Menyajikan relief yang lebih jelas karena adanya pembesaran vertikal.

· Memungkinkan pengukuran beda tinggi untuk pembuatan kontur.

· Memungkinkan pengukuran lereng untuk menentukan kelas lahan atau

konservasi lahan.

d. Karakteristik objek yang tampak dapat diwujudkan dalam bentuk citra sehingga

dimungkinkan pengenalan objeknya. Objek dapat dikenali berdasarkan beda

suhunya. Kota yang direkam dengan citra inframerah terma l tampak gelap pada

malam hari, ini dapat diwujudkan bentuk citra yang cukup jelas. Selain itu,

kebocoran pipa gas bawah tanah atau kebakaran tambang batu bara bawah tanah

mudah dikenali pada citra inframerah termal. Objek tersebut tidak tampak oleh

mata karena terletak di bawah tanah. Meskipun terlihat langsung oleh mata, air

panas yang keluar dari industri tidak dapat dibedakan terhadap air lainnya dalam

wujud yang sama. Air panas dapat dikenali dengan baik pada citra inframerah

termal.

e. Citra dapat dibua t secara cepat meskipun untuk daerah yang sulit dijelajahi

secara langsung (terestrial). Hal ini dapat dibuktikan pada pemetaan daerah

rawa, hutan, dan pegunungan. Kalau cuacanya baik, daerah tersebut dapat

dipotret dengan citra secara cepat. Perekaman sat u lembar foto udara meliput

daerah seluas 132 km2 dilakukan dalam waktu kurang dari satu detik,

sedangkan perekaman citra LANDSAT yang meliputi daerah seluas 34.000 km2

dilakukan dalam waktu 25 detik.

f. Merupakan satu-satunya cara untuk pemetaan daerah bencana karena tidak ada

cara lain yang mampu memetakan daerah bencana seara cepat justru pada saat

terjadi bencana, misalnya banjir, gempa bumi, gunung meletus, seperti letusan

Gunung Galunggung tahun 1982 yang terekam antara lain pada citra satelit

Cuaca GMS dan NOAA.

g. Citra satelit dibuat dengan periode ulang yang pendek, misalnya 16 hari bagi

citra LANDSAT IV dan dalam dua kali tiap harinya bagi citra NOAA. Dengan

demikian, citra merupakan alat yang baik sekali untuk memantau perubahan

yang cepat, seperti pembukaan hutan, pemekaran kota, atau perubahan kualitas

lingkungan.

ALAT UNTUK MENGINTERPRETASI CITRA (FOTO UDARA)

Kita dapat menggunakan alat pengamat untuk menganalisis dan menginterpretasi citra atau

foto udara. Dilihat dari sifatnya, alat pengamat dibedakan menjadi stereoskopik dan

nonstereoskopik. Alat pengamat stereoskopik dapat digunakan untuk mengamati objek tiga

dimensi (panjang, lebar, dan tinggi objek).

GPS adalah perangkat atau alat untuk menentukan posisi tempat di bumi (globe) melalui

sinyal satelit.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar